AGAR PUASA SYAWAL NGAK TERASA 'BERAT'

Ada yang bertanya. Puasa Syawal itu baiknya dilakukan kapan? Lah... Baiknya dilakukan bulan Syawal, bukan? Haha... Tapi mungkin maksud pertanyaannya adalah, baiknya dilakukan saat awal atau akhir bulan Syawal? Dalam artikel muslim.or.id (09/08/2013) disebutkan, tentang tata caranya. Ternyata banyak keutamaan, jika ibadah tersebut didahulukan lebih awal dan  berturutan. Sebuah hadits menerangkan pahala bagi orang yang berpuasa di bulan Syawal. 




“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Wah, siapa yang ngak mau pahala puasanya dinilai selama setahun penuh? Makanya, perlu niat yang kuat untuk dapat menjalankan ibadah, dengan pahala yang melimpah seperti ini.

Puasa Syawal sendiri, dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • Puasanya dilakukan selama 6 hari
  • Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri. Namun tidak mengapa jika diakhirkan, asal masih di bulan Syawal
  • Lebih utama dilakukan secara berurutan. Namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan
  • Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan dari pada yang sunnah
Kenapa puasa Syawal terasa begitu berat? Karena godaannya yang juga berat, Bro! ^^

Biasanya setelah puasa  Ramadhan, kita berharap bisa lanjut makan enak. Eh, tahunya, Allah memberi sumber pahala lain, dengan cara menawarkan untuk lanjut berpuasa. Tapi tenang saja... Allah itu mencintai orang yang beribadah secara berkesinambungan.  Dan salah satu ciri diterimanya ibadah kita di bulan Ramadhan, manakala seseorang merasa ingin dekat terus denganNya. Semoga saja, kita yang menyempatkan ibadah puasa di bulan Syawal, termasuk dalam golongan tersebut.

Duh, mingu-minggu ini masih banyak saudara yang datang ke rumah, karena kita open house! Hehe... Masing-masing orang tentu berbeda kesanggupannya. Saat menjalankannya, ada yang tidak mengalami kendala sama sekali  Namun ada pula yang merasa berat bangettt! *pake banget, ya! Tapi karena panggilan keimanan, tentu usahanya dilakukan dengan kesungguhan pula. InsyaAllah dimudahkan.

Seperti apa sih, baiknya puasa Syawal, atau yang sering kita sebut Syawal-an, itu? Berikut pengalaman penulis, agar Syawal-an kita tidak terasa berat.

Lakukan dengan niat

Syawal-an tentu berbeda dengan puasa Ramadhan. Hukumnya sunnah, hingga tidak perlu diganti dan tidak semua orang mau melakukannya. Kalau di bulan Ramadhan, banyak warung, resto atau cafe yang tutup, di bulan Syawal ini malah banyak pelanggan yang datang. Jadi wajar saja, godaannya cukup berat. Niat yang kuat, tentu akan mempermudah. Kita bisa mempersiapkan sahur dan berbuka dengan sebaik-baiknya. Selain itu, dapat pula mengantisipasi kegiatan yang akan dilakukan di siang hari, agar tidak diserang rasa lapar dan haus yang berlebihan.

Atur jadwal Syawal-an 

Agenda silaturahmi keluarga dan relasi tentu tidak henti-hentinya, pasca lebaran. Halal bil halal menjadi agenda runut setelahnya. Undangannya pun tidak mengenal waktu. Kalau undangan makan malam, tentu tidak akan berpengaruh dengan ibadah Syawal-an kita. Namun kalau agenda silaturahmi dilakukan siang hari? Nah, ini dia! Ditolak atau ngak, ya? Biasanya di akhir pekan masih banyak pula undangan silaturahmi. Wajar jika diantaranya ada yang memutuskan untuk menunda Syawal-an. Karena saat itu saatnya makan enak, bukan? ^^

Pilih waktu yang baik

Pengalaman penulis, Syawal-an di awal (tidak jauh setelah Idul Fitri) lebih disukai. Biasanya masih di minggu pertama bulan Syawal. Hal itu mudah dilakukan karena kondisi tubuh yang masih terpola puasa Ramadhan. Selain punya keutamaan saat menjalaninya, bersegera dalam beribadah tentu akan lebih baik, seakan tidak ada beban lagi setelahnya. Sebagian ada juga yang memulai saat awal masuk kerja. Karena, biasanya akan lebih mudah mengontrol aktivitas. Selain itu, menolak ajakan makan siang sesama teman kerja lebih mudah, karena sebagian dari mereka menghormatinya.


Siapkan hidangan yang berselera bersama keluarga

Jujur saja, terkadang persiapan menu saat sahur dan buka yang mengundang selera, bisa menjadi semangat tersendiri untuk melakukan ibadah puasa. Kalau memang demikian, mengapa tidak dilakukan? Puasa Syawal-an juga akan terasa berkesan bila kita melakukan bersama orang-orang terdekat. Kita bisa melakukan sahur dan buka puasa bersama. Pengalaman penulis sendiri, salah satu keistimewaan sahur dan berbuka bersama keluarga saat Syawal-an, Ramadhan jadi terasa panjang... Seolah tidak bisa move-on dari Ramadhan. Namun disanalah letak keberkahnya. 

14 Responses to "AGAR PUASA SYAWAL NGAK TERASA 'BERAT'"

  1. Iya mas Ari, aku baru mau mulai nih, semoga Istiqomah, agak berat liat stok kue dan camilan yang melimpah di rumah ortu hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah Dew. Hihi... Pake tutup mata kalau silaturahmi, ya!

      Delete
  2. Terima kasih sudah diingatkan lagi.

    ReplyDelete
  3. Aku udah mulai sejak Senin. Pas banget hari ini kesiangan, bangunnya Subuh. Jadi kelewat minum (eh hari lain juga biasanya makan biskuit dan minum doang hehe). Semoga hari ini kuat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, senang sekali di komen Yayan.... Uhuy! Berasa empe!
      Eh, sama ding! Karena kebanyakan ngetik, semalam saya hampir kesiangan. Banun sama istri cuma bisa siapin nugget dan air hangat saja... ^^ Ayo semangat, Yan!

      Delete
  4. Replies
    1. Sami-sami, Kang!
      *Senang suhu ngeblog saya mampir... ^^

      Delete
  5. Iya euy blm mulai lagi, mas kunto

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Haha... Makasih Mbak Wik, sudah ninggalin jejak.
      Nanti lebih sering lagi yah! ^^

      Delete
  7. Keren nih, tips, Mas Kay.
    Memang bagusnya sih dilakukan secara berurutan ya, Mas.
    Jadi ritme-nya dapat. Soalnya justru di hari biasa itu, puasa godaannya berat hehehe

    ReplyDelete
  8. Iya Mas Baim. Kalau bisa berurutan, jadi plong...
    Matur nuwun sudah mampr Mase...

    ReplyDelete